Sepertinya sudah berulang kali aku katakan ; "Aku mulai bosan dengan rutinitasku saat ini". Sedang giat2nya mencari kegiatan, pekerjaan dan lingkungan yang baru. Seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya, suasana kantor juga sudah menjadi sangat 'tidak kondusif'nya. Hanya aku yang merasakan. Dan PA juga sudah keluar. Tidak buruk, bahkan cenderung baik. Hanya saja, mungkin kondisinya sangat jauh berbeda dengan yang mereka semua harapkan. Kenapa mereka? Yah, karena tidak hanya aku sendiri. Untuk mereka yang merasa sudah dalam posisi 'sangat aman' sekalipun, tetap akan berada dalam warna yang masih 'abu-abu'. Dua minggu ini, aku masih berada dalam warna itu.
Sedikit kejadian di kantor akan kutuliskan, agar bisa ku ingat dan ku jadikan pembelajaran. Kondisi tersebut juga sudah aku diskusikan dengan
bapak ari yang sudah menguasai lapangan untuk urusan pembekalan pegawai.
Kejadiannya adalah di hari Rabu (28/10) setelah aku mendapat jatah libur. Pagi sekali, aku menerima E-mail dari Bapak Derri dari Divisi Bisnis Proses, untuk konfirmasi mengenai 'project RUIM IMSI' yang harus aku dan Putera -rekanku- lanjutkan. Hanya saja, untuk
project ini aku dan Putera masih belum mendapat
assignment untuk melanjutkannya dari sang SPV tim-ku karena dia masih dalam posisi 'cuti menikah'. Intinya Bapak Derri langsung meminta konfirmasi dari Bapak Manager Ifan yang juga sedang bercuti. Kita semua tau
project ini sifatnya
urgent, dan aku juga bingung mengapa sang Manager tak langsung menugasiku sesuai dengan proseduralnya. Aku ingin berinisiatif, hanya saja takut melampaui otoritasku. Aku dan Putera pun menunggu. Akan tetapi, kondisi di siang itu berbeda. Putera malah menerima
assignment dari SPV tim lain untuk bisa segera mengerjakan
project itu, dengan alasan sang Manager marah?. Apa aku tidak salah mendengar? Marah untuk apa? Dia baru saja mengirimkan E-mail padaku dengan bahasa yang sangat baik untuk mengingatkan tugas lainku yang harus aku kerjakan. Aku dan Putera pun berasumsi segalanya telah di besar2kan sang 'SPV lain' itu. Aku dan Putera merasa kaget juga. Dan sesuai dengan prosedural, kita bukannya tidak mau untuk mengerjakan sesegera mungkin. Tapi kondisinya pagi itu, seluruh aplikasi di kantor
down!. Kita penuh dengan tugas lain yang sama
urgent-nya. Dan pada saat ini kita hanya menunda untuk beberapa jam, agar mengutamakan yang lebih penting. Sang 'SPV lain' salah mengerti, dia beranggapan kami telah menolaknya. Padahal seingatku, Aku dan Putera sudah sangat berdiplomasi dengan baik untuk penyampaian
pending bukan
penolakan. Putera yang sedikit
vocal juga telah menyampaikan semuanya dengan sangat jelas. Sang 'SPV lain' pun merasa ditolak. Merasa kekuasaannya hilang, menceritakan dengan SPV yang lainnya juga, dan masih2 mengutarakan sisi subjektivitasnya. Haruskah begitu?.
Sang 'SPV Lain' adalah dia yang baru. Sebelumnya dia sama dengan kita. Dengan prestasi yang 'mungkin' lebih baik dan lebih dekat dengan yang berkuasa, dia pun bisa ikut berkuasa. Tidak ada pembekalan untuk ilmunya me-
manage manusia. Dan itulah yang memunculkan
Power Syndrome bagi dirinya -menurut pendapat
bapak ari. Ada rasa ketakutan kekuasaan yang hilang atau kekuasaanya bisa direbut orang lain, yang padahal sebenarnya sangat mendukungnya. Takut melihat bawahannya
vocal, karena akan menjatuhkannya. Takut dipandang tak baik dengan sang atasan yang memberinya kekuasaan itu. Dan tidak pernah bisa berfikir positif untuk segala-galanya. Dan di perusahaan -yang aku juga merasa telah jenuh- ini, masih kental akan sisi subjektif para penguasa. Kita akan mendapatkan hasil yang baik jika dia menyukai kita bukan dari sisi objektifnya.
Sebenarnya, aku juga tak ingin membahas ini. Mungkin, ini akan aku jadikan pembelajaran untuk tidak melakukan hal yang sama jika suatu masa aku berada di posisinya. Tentu saja, tulisan ini untuk mengingatkanku.
Disebabkan kejenuhan itulah, aku ingin mencari hal yang baru. Sesuatu yang baru. Dan ini sudah aku laksanakan dalam seminggu ini. Aku semakin optimis. Masih ingin segera bisa memulai S-2 yang sudah lama aku
pending karena jadwal kerja yang masih belum memungkinkan. Dan aku tinggal menunggu, saat itu pasti akan tiba.
Untuk cerita yang lain, tadi seorang sahabat lama di
Kampus USU, Bapak Surya Ramadhan a.k.a Ayek memberikan kabar bahagia melalui telepon selular. Bercerita dan reuni tentang masa-masa 'gila' di kampus dulu. Kabar bahagianya, dia akan segera 'naik pelaminan' dan mengundang semuanya. Wah, bahagianya, doakan saya segera menyusul yah. :-). Sekalian menyampaikan 'amanah'nya juga, untuk teman2 Ilmu Komunikasi USU Angkatan 2000 diharapkan bisa menghadiri akad nikah/resepsinya. Akan di adakan di Banda Aceh, tanggal 12/13 Desember 2008.
Miss u All.Jay